Siapakah yang lebih baik dalam hal agama daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah dan dia adalah orang yang berbuat baik lagi pula ia sepenuh hati mengikuti agama Ibrahim yang lurus (hanif)
(Q.S. An-Nisaa [4]: 125).



Mengarungi Kehidupan di dunia ini adalah sebuah ujian, dalam dalam melawan ujian tersebut, hanya orang-orang yang benar-benar teguh iman saja yang dapat melewati ujian tersebut. Orang-orang beriman tidak mudah tertipu oleh Kelezatan atau kilauan nikmat dunia yang sangat menggoda. Bagi orang-orang yang memahami hakikat kehidupan dunia ini, mereka memandang dunia dan seisinya ini tak lebih dari sebuah panggung sandiwara atau permainan yang ujung-ujungnya melalaikan, orang-orang beriman tidak berbangga hati dan sombong dengan harta kekayaan dan anak yang di miliki. Jika dalam diri mereka telah tertanam sifat-sifat tersebut, maka mereka adalah orang-orang yang zuhud.

Zuhud merupakan sifat yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang mengaku sebagai seorang muslim. Zuhud juga diharapkan menjadi gaya hidup umat muslim kapan dan di manapun ia berada tidak luntur oleh zaman serta keadaan. Zuhud bukanlah meninggalkan kenikmatan dunia, bukan berarti mengenakan pakaian yang lusuh, dan bukan berarti miskin. Zuhud juga bukan berarti hanya duduk di masjid, beribadah dan beribadah saja tanpa melakukan kegiatan-kegaitan lainnya. Zuhud adalah kemampuan kita dalam menjaga hati dari godaan serta tipu daya kemewahan dunia tanpa meninggalkannya. Dengan pengertian yang lebih luas, zuhud merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi; mereka tetap bekerja dan berusaha, namun kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan hatinya dan tidak membuatnya meninggalkan Allah sedetik-pun.

Rasulullah SAW dalam hadisnya sudah memberikan gambaran serta panduan bagi orang-orang yang beriman dalam menghadapi kehidupan dunia: "Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.' (H.R. Bukhari). Rasul tidak hanya memberi perintah, melainkan Beliau juga mencontohkan langsung kepada umatnya bagaimana caranya hidup di dunia, yakni setiap gerak langkah selalu bermuara pada harapan akan keridhaan Allah.

Di Dunia kesederhanaan hidup Rasul benar-benar dicontoh oleh para sahabatnya. Abu Bakar ash-Shiddiq, Usman bin Affan dan Abdurrahman Bin Auf hanya segelintir contoh sahabat Rasul yang memiliki kekayaan melimpah, namun hanya sedikit dari kekayaan itu yang mereka nikmati sendiri. Sebagian besarnya mereka gunakan bagi kepentingan dakwah, jihad fii sabilillah dan menolong kaum muslimin. Bahkan Abu Bakar pernah memanjatkan do'a kepada Allah: "Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami." Selain itu, sembilan dari sepuluh sahabat Nabi yang telah dijamin masuk surga adalah termasuk orang-orang yang kaya raya. Tapi di saat yang sama mereka pun zuhud, tidak membangga-banggakan harta kekayaannya. Mereka rajin bersedekah baik untuk orang-orang miskin maupun untuk kepentingan dakwah.
Sekarang, orang-orang yang memiliki harta lebih, terkadang enggan untuk mengeluarkan hak-hak untuk saudaranya yang terdapat dalam harta kekayaannya tersebut. Kalaupun bersedekah itu hanya sedikit sekali dan itu pun masih disertai dengan perkataan yang mengindikasikan ketidakikhlasan hatinya.



Nms24Jam