
Saudara ku, tidak heran jika Pengadilan Agama tidak sepi pengunjung. Tapi jangan buruk sangka dulu... memang banyak yang bisa di urus di Pengadilan Agama bukan mengurus masalah penceraian saja, namun kita juga tidak bisa menutup mata dan telinga kita kalau angka penceraian cukup tinggi (berarti yang mengurus penceraian banyak). .
Apa sih yang menyebabkan begitu tingginya angka penceraian?
Saudara ku, banyak perkara atau sebab yang me-latarbelakanginya, namun kalau mau meruntut dari permasalahan yang terbangun di Pengadilan Agama, bisa dilihat dari banyaknya bahasa "hukum" yang terlontar atau bahkan dijadikan pegangan kuat. Saudaraku, cukup dengan menyimpulkan permasalahn keluarga hanya dengan kalimat populer yaitu "Sudah tidak ada kecocokan lagi". sepertinya kata ini adalah pamungkas atau bisa dikatakan jitu. bahkan oleh sebagian orang kalimat ini menjadi sebuah "obat mujarab" pelipur lara bagi penyakit yang sedang diderita dalam tubuh keluarganya. dan tentu ini dialami oleh satu keluaraga yang memang sudah ke "semsem" ingin bercerai.
Saudara ku, sepengetahuan saya, (maaf saya juga sedang belajar) Islam tidak mengajarkan demikian. Sebuah Keluarga adalah satu Sunah yang suci yang harus di junjung tinggi. tapi rupanya sunah Rosul ini banyak dipakai untuk sebuah alasan agar cepat-cepat "bisa" berumahtangga.
Orang yang menginginkan untuk bisa berumah tangga sebenarnya tidak segampang apa yang di perkirakan. terlepas orang itu mampu atau tidak dalam urusan biaya, yang lebih mendalam justru banyak yang dilupakan oleh para (maaf) orang tua, yang tidak memperkirakan sampai dimana ilmu anaknya untuk bisa mengarungi bahtera rumah tangga.
Karena bagaimanapun, Laki-lakilah yang berperan penting dalam sebuah keluarga, selain perempuan dan ini tidak meng-deskreditkan kaum Adam. Kecakapan mental/akhlak selain fisik sangat diperlukan dalam mengurus rumah tangga. Laki-laki adalah pemimpin yang bisa dikatakan menjadi penggeraknya.
Bagi seorang suami, kematangan secara emosional dan cakap dalam berpikir sangat diperlukan sekaki. Nah bagaimana ? tentunya hal itu tidak lepas dari kondisi atau kuantitas dan kualitas ilmu yang dimiliki oleh seorang suami. Semakin banyak ilmu yang dimiliki oleh seorang suami terutama dalam ilmu agama, maka Insya Allah, jalan untuk menjalankan peranannya sebagai seorang suami akan menjadi tembok untuk menahan dari kehancuran rumah tangga.
Bayangkan kalau ilmu yang dimiliki tidaklah cukup atau bahkan tidak ada sama sekali, dapat dibayangkan bagaimana bisa membangun sebuah keluarga yang aman dan tentran kalau sebuah komunikasi tidak bisa dijalankan? meski semua itu melalui sebuah proses, namun dsar-dasar Agama sangatlah diperlukan sekali dalam arena pergulatan dua jiwa yang yang berbeda jenis kelamin, berbeda pola pikiran, pemahaman serta pola hidup bisa bersatu.
Dan apabila memang tanpa dibekali dengan kuantitas dan kualitas ilmu yang baik, niscaya kematangan emosional dan cara berpikir tidak akan tercapai dengan baik. Dan tanpa adanya kedua hal tersebut maka rumah tangga akan menjadi lahan empuk bagi sang suami untuk menerapkan kesewenang-wenangannya terhadap seluruh anggota keluarga yang tinggal dirumahnya.
Coba kita tengok sosok Rasulullah sebagai seorang suami. Nabi tercinta kita ini adalah seorang suami teladan bagi seluruh umat manusia. Jangan lagi ada kata-kata yang bisa mematahkan semangat kita dalam mencari atau menggapi derajat kebaikan seprti "ya kitakan bukan nabi, jauhlah kita bbisa menyamai nabi" jangan saudara ku jangan mempunyai pemikiran seperti itu, karena semua yang diperlihatkan, diucapkan adalah satu conoth yang sangat mendidik buat kita semua.
Rasulullah Muhammad saw memberikan satu tauladan yang sangat baik untuk tetap menjaga tembok keluarga agar tetap kokoh terhindar dari kehancuran. Kita lihat, Rasulullah Muhammad saw diluar rumah beliau berperan sangat baik tegas dan penuh perhitungan sebagai seorang panglima perang dan ketika Rasulullah Muhammad saw berada di rumah, beliau pun mampu berperan sebagai suami terbaik.
Bukan lantas hanya terlontar kata-kata pesimis bisa menyamai Rasulullah Muhammad saw, dan juga bukan mau menyamai, tapi saudara ku.. kita hanya perlu menjalankan apa yang telah di ajarkannya apakah ada jalan lain selain menuruti dan mempelajari dari apa yang sudah di ajarkan Rasulullah Muhammad saw.
Bagaimana keindahan yang dijalani, ketentraman yang terus menyelimuti, kehangatan yang tidak pernah pudar dan tentunya bagi kita semua menginginkan memiliki/jadi seorang suami seperti Rasulullah Muhammad saw, dan sudah dipastikan semua tidak akan menolak.
Saudara ku,,,,memang untuk menjadi seorang suami seperti Rasulullah Muhammad saw tidak akan dapat dilakukan dengan sepenuhnya atau sama persis. Karena pada dasarnya, beliau adalah seorang Rasul yang terjaga dari kesalahan dan maksiat sekecil apapun, sementara kita hampir selalu saja bersentuhan dengan yang namanya maksiat atau dosa, baik sengaja maupun tidak sengaja. Hanya saja, sebagai umatnya kita tentu saja dapat memaksimalkan usaha untuk dapat mengikuti jejak beliau dalam berumah tangga. Untuk menjadi seorang suami seperti Rasulullah saw, kita dapat berusaha untuk senantiasa mengaplikasikan apa-apa yang beliau aplikasikan di dalam rumah tangga.
Saudara ku,, di dalam rumah tangganya, Rasulullah Muhammad saw tidak pernah memiliki sifat untuk meraja yang selalu ingin atau meminta untuk dilayani. Rasulullah Muhammad saw tidak pernah memperbudak istri-istri beliau. Justru beliau sangat sayang dan menghormati istri-istri beliau, mendidik istri-istri beliau dan bersikap seadil-adilnya.
Rasullah Muhammad saw senantiasa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas. Rasulullah Muhammad saw sering membantu mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan istri-istrinya. Hebatnya lagi, beliau yang merupakan seorang Rasul Allah swt, tokoh dakwah terkemuka, dan sebagai panglima perang tidak pernah merasa malu atau malas untuk mengerjakan pekerjaan-perkejaan istri beliau (pekerjaan wanita).
Saudara ku,,, Rasulullah Muhammad saw lebih suka menjahit pakaian beliau sendiri ketika berada di rumah, beliau juga bekerja membantu memerah susu. Semaksimal mungkin beliau pun bersikap mandiri dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, melayani diri sendiri dan tidak menekan sang istri untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri.
Aisyah ra. pernah ditanya: "Apakah yang dilakukan Rasulullah saw di dalam rumah?" Ia radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Saudara ku,, seperti kita ketahui bersama Rasulullah Muhammad saw adalah seorang Rasul Allah swt yang mulia, panglima perang besar yang gagah perkasa. Namun beliau tidak pernah merasa malu, malas, atau gengsi untuk menciptakan kenyamanan dengan membantu pekerjaan istri-istri beliau. Beliau tidak pernah mengeluh manakala harus melayani kebutuhannya sendiri.
Nah saudara ku,,,, lantas bagaimana dengan kita ? monggo kita renungkan bersama-sama